E-LEARNING, SUATU PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN YANG AMAN, BEBAS DARI CORONAVIRUS

E-LEARNING, SUATU PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN YANG AMAN, BEBAS DARI CORONAVIRUS

Oleh: Jaeyi Kim (Siswi Kelas 7 Sinarmas World Academy)

Ketika COVID-19 membatasi setiap individu untuk berkumpul bersama di satu tempat, sekolah-sekolah juga mendorong para siswa untuk mempraktikkan “social distancing” melalui sesi pembelajaran e-learning.

Demi memperlambat laju pertumbuhan pesat pasien yang terinfeksi, social distancing adalah tindakan yang efektif. Sebuah gerakan yang meminimalisir kontak dengan orang lain, social distancing juga bisa diartikan sebagai karantina diri secara sukarela di masa darurat seperti sekarang ini. E-learning, atau kegiatan belajar melalui media elektronik, adalah sebuah metode social distancing yang efektif.

Untuk menghindari situasi yang memiliki kontak dengan banyak orang, beberapa sekolah di Indonesia baru-baru ini memperkenalkan e-learning dalam melaksanakan kurikulum sekolah. Sinarmas World Academy, salah satu sekolah yang berlokasi di Kota Tangerang Selatan telah mengadopsi e-learning dalam pembelajaran. Dengan menggunakan tautan ke Google Meet, suatu tempat untuk live chat, berbagi layar, dan pengecekan kehadiran, para guru dapat membagi siswanya ke dalam beberapa kelas. Sedangkan untuk anak-anak KB dan TK dapat belajar melalui rekaman video yang telah dikirim ke orang tua. Untuk anak SD ,SMP, an SMA belajar secara langsung melalui tatap muka secara daring. Jadwal pelajaran yang dioptimalkan untuk pembelajaran yang berorientasi secara individual juga telah dibuat dan dijalankan.

Kelebihan yang menonjol dari e-learning adalah pembelajaran dapat dipersonalisasi dan waktu yang digunakan lebih efektif. Dengan menjelaskan tugas-tugas yang diberikan dan adanya kesempatan untuk menyelesaikan setiap tugas, beberapa siswa mungkin akan berdiskusi dan langsung mengerjakan beberapa tugas, atau ada juga yang mengerjakan tugasnya secara berurutan. Dengan demikian, e-learning dapat secara efektif meningkatkan efisiensi pembelajaran mandiri. Sebagai contoh, saya dan teman saya dapat meningkatkan konsentrasi dengan menggunakan taktik belajar sendiri. Saya mengerjakan tugas-tugas terlebih dahulu dan mencari penjelasan lebih lanjut jika mengalami kesulitan. Sedangkan teman saya membaca penjelasan terlebih dahulu dan setelah itu mengerjakan tugas-tugas. Karena saya menemukan dan membandingkan beberapa taktik belajar, secara bertahap saya akhirnya menemukan kesenangan yang sesungguhnya dalam belajar.

“Menurut saya sesi e-learning mengajarkan para siswa untuk meningkatkan integritas dan tanggung jawab. Meskipun saya bisa mematikan mikrofon beserta kamera saya dan tidak melakukan apa-apa, saya selalu mencoba untuk menyerap setiap detik dari pembelajaran”, seorang murid kelas 7 memberikan pujian terhadap semangat yang ditunjukkan oleh para guru. Menghubungkan beberapa layar sampai dengan penggunaan sketchpad dan alat penunjang edukasi lainnya, para guru tetap bersemangat dalam mengajar secara visual dan meningkatkan efisiensi.

Salah satu hal yang perlu dikembangkan untuk e-learning adalah komunikasi. Walaupun dapat berkomunikasi secara face-to-face (online), tetap sulit untuk menyatukan emosi dan atmosfer dalam belajar, yang terkadang menyebabkan miskomunikasi. Selain itu, para guru diharuskan untuk mencari ide-ide baru untuk membuat kelas menjadi lebih menarik bagi para siswa. Terlebih lagi, malfungsi kamera dan mikrofon kadang terjadi dan hal tersebut menyebabkan para siswa kehilangan konsentrasi dalam belajar.

Meskipun metode yang digunakan sangat menantang, Ibu Young Mi Lee, orang tua siswa berkebangsaan Korea Selatan, mengatakan, “para guru dan para siswa dapat terhubung tanpa adanya halangan. Sekolah SWA dapat diandalkan dan memiliki persiapan yang matang, serta memastikan para siswa secara efektif dapat mengikuti semua pelajaran.” Harapan saya, semua sekolah bisa menerapkan kurikulum e-learning yang tersusun dan terkoordinasi.

Loading Loading